Mediabaca.com — Lombok dan Sumbawa, dua pulau di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dikenal memiliki kekayaan budaya yang unik dan beragam. Mulai dari seni tradisional, upacara adat, tenun khas, hingga musik dan tari tradisional, budaya di kedua pulau ini menjadi identitas penting masyarakat setempat. Namun, seiring perkembangan zaman dan modernisasi, pelestarian budaya lokal menghadapi tantangan serius. Menjaga nyala budaya Lombok Sumbawa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat, akademisi, hingga generasi muda.
Lombok dikenal dengan tenun ikat Sasak, kain tradisional yang memerlukan keterampilan tinggi dalam proses pembuatannya. Tenun ini bukan sekadar pakaian, tetapi juga sarat makna simbolik yang mencerminkan status sosial, adat, dan kepercayaan masyarakat Sasak. Selain itu, Tarian Tradisional seperti Gandrung dan Peresean menjadi media ekspresi budaya sekaligus sarana menjaga warisan leluhur.
Sementara itu, Sumbawa memiliki budaya musik dan alat musik tradisional, seperti Gendang Beleq, yang biasa dimainkan dalam acara adat dan upacara keagamaan. Tarian dan ritual di Sumbawa juga kerap menampilkan nilai-nilai kehidupan masyarakat, termasuk gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, dan harmoni dengan alam. Budaya kuliner khas seperti sate rembiga dan sego tempong turut menambah keunikan identitas lokal yang perlu dijaga.
Seiring globalisasi dan arus digitalisasi, budaya Lombok Sumbawa menghadapi berbagai tantangan. Anak muda kini lebih akrab dengan musik pop, media sosial, dan budaya luar negeri. Fenomena ini menyebabkan minat generasi muda terhadap tradisi lokal menurun, termasuk dalam mempelajari tarian, musik, dan kerajinan tangan.
Selain itu, wisata massal yang berkembang tanpa pengelolaan yang baik juga bisa mengancam kelestarian budaya. Contohnya, atraksi budaya yang hanya dipentaskan untuk turis bisa kehilangan makna asli, sehingga budaya hanya menjadi hiburan semata, bukan bagian dari kehidupan masyarakat. Perubahan sosial dan ekonomi pun memengaruhi keberlanjutan praktik-praktik adat, karena banyak generasi muda lebih memilih pekerjaan di kota atau sektor modern dibanding meneruskan tradisi leluhur.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga nyala budaya Lombok Sumbawa. Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan NTB aktif menyelenggarakan festival budaya, pameran tenun, dan pelatihan seni tradisional bagi anak muda. Festival Bau Nyale di Lombok, misalnya, bukan hanya ritual adat untuk menangkap cacing laut, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda dan wisatawan.
Sekolah dan perguruan tinggi lokal juga mulai memasukkan pendidikan budaya dalam kurikulum, seperti pelajaran tari tradisional, musik, dan kerajinan tangan. Dengan cara ini, anak-anak dan remaja dapat memahami makna dan nilai-nilai budaya sejak dini, sehingga tercipta generasi penerus yang peduli akan warisan leluhur.
Komunitas lokal dan LSM juga berperan penting dalam mendokumentasikan budaya melalui media digital. Misalnya, membuat video tutorial tari tradisional, dokumentasi ritual adat, atau mempopulerkan tenun Sasak melalui media sosial. Dengan teknologi, budaya lokal bisa dikenal lebih luas tanpa kehilangan esensi aslinya.
Generasi muda menjadi kunci penting dalam menjaga nyala budaya Lombok Sumbawa. Mereka perlu dilibatkan aktif dalam berbagai kegiatan budaya, mulai dari pertunjukan seni, lomba tenun, hingga pelatihan musik tradisional. Dengan membangun rasa bangga terhadap identitas lokal, budaya tidak akan punah meski menghadapi arus globalisasi.
Selain itu, masyarakat juga bisa menjaga budaya melalui praktik sehari-hari, seperti menghormati adat, melestarikan bahasa daerah, dan ikut serta dalam upacara tradisional. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda menjadi fondasi kuat agar budaya Lombok Sumbawa tetap hidup dan berkembang.
Budaya Lombok Sumbawa adalah warisan berharga yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Meskipun modernisasi dan globalisasi menghadirkan tantangan, komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, dan generasi muda mampu memastikan budaya ini tetap hidup. Menjaga nyala budaya bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga mempertahankan identitas, nilai-nilai, dan kebanggaan masyarakat. Dengan pelestarian yang tepat, budaya Lombok Sumbawa akan tetap bersinar, menjadi inspirasi, dan diwariskan kepada generasi-generasi mendatang.
