Mediabaca.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kegiatan Kemah Budaya 2025. Acara yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas budaya dari berbagai daerah di NTB ini menjadi wadah edukasi sekaligus ruang pembentukan karakter generasi muda. Wakil Gubernur NTB dalam sambutannya menekankan pentingnya menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan sejak usia dini sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan.
Kemah Budaya 2025 tidak hanya menjadi ajang pertemuan seni dan tradisi lokal, tetapi juga sarana edukasi lingkungan yang dikemas secara kreatif dan partisipatif. Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya mengenal kekayaan budaya NTB, tetapi juga memahami hubungan erat antara budaya lokal dan kelestarian alam. Menurut Wagub NTB, banyak nilai-nilai budaya leluhur yang sejatinya mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, menjaga hutan, air, dan tanah sebagai sumber kehidupan.
Dalam sambutannya, Wagub NTB menegaskan bahwa tantangan lingkungan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, kerusakan ekosistem, serta meningkatnya produksi sampah menjadi persoalan nyata yang harus dihadapi bersama. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan formal di sekolah, tetapi juga perlu diperkuat melalui kegiatan nonformal seperti Kemah Budaya. Melalui pengalaman langsung di alam terbuka, peserta diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Rangkaian kegiatan dalam Kemah Budaya 2025 dirancang untuk menanamkan nilai pelestarian lingkungan secara menyeluruh. Peserta mengikuti diskusi budaya dan lingkungan, lokakarya pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta pertunjukan seni yang mengangkat tema alam dan keberlanjutan. Aktivitas ini bertujuan agar pesan pelestarian lingkungan tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga melalui praktik nyata yang membekas dalam ingatan peserta.
Wagub NTB juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ini. Menurutnya, anak-anak dan remaja memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Jika sejak dini mereka dibiasakan untuk peduli terhadap lingkungan, maka di masa depan akan lahir generasi yang memiliki kesadaran ekologis tinggi. Hal ini menjadi modal penting bagi NTB dalam menjaga kelestarian alamnya, yang dikenal memiliki potensi wisata alam dan budaya yang luar biasa.
Selain itu, Kemah Budaya 2025 juga menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya lokal. Peserta diajak mengenal tradisi, tarian, musik, dan kearifan lokal dari berbagai daerah di NTB. Dalam konteks ini, Wagub NTB menekankan bahwa pelestarian budaya dan lingkungan harus berjalan beriringan. Budaya yang lestari akan mendukung keberlanjutan lingkungan, begitu pula sebaliknya, lingkungan yang terjaga akan menjadi ruang hidup bagi budaya untuk terus berkembang.
Pemerintah Provinsi NTB berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi mampu melahirkan gerakan nyata di masyarakat. Peserta diharapkan menjadi duta lingkungan dan budaya di lingkungan masing-masing, menyebarkan nilai-nilai yang mereka peroleh selama kegiatan. Dengan demikian, dampak Kemah Budaya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan. Kemah Budaya 2025 juga menunjukkan sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, dan dunia pendidikan dalam membangun kesadaran lingkungan. Kolaborasi ini dinilai penting untuk menciptakan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Pemerintah berperan sebagai fasilitator, komunitas budaya sebagai penjaga nilai, dan generasi muda sebagai pelaku utama perubahan.
Secara keseluruhan, penekanan Wagub NTB terhadap pelestarian lingkungan sejak dini dalam Kemah Budaya 2025 menjadi pesan kuat bagi seluruh elemen masyarakat. Upaya menjaga alam tidak bisa ditunda dan harus dimulai dari kesadaran individu, terutama generasi muda. Melalui pendekatan budaya dan pendidikan, NTB berupaya membangun masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
