Mediabaca.com — Tahun dua ribu dua puluh lima menjadi tonggak penting bagi warisan budaya Vietnam. Sepanjang tahun tersebut, negara ini mengalami berbagai momen bersejarah dalam upaya pelestarian, promosi, dan pengakuan internasional atas kekayaan budaya yang dimilikinya. Dari pengakuan UNESCO hingga kegiatan nasional yang menghidupkan tradisi sehari‑hari, warisan budaya Vietnam tampil lebih ke permukaan bagi dunia dan bagi rakyatnya sendiri.
Perjalanan ini tidak hanya menggambarkan kekayaan masa lalu, tetapi juga semangat bangsa yang terus berupaya mempertahankan identitasnya di tengah modernisasi dan globalisasi. Salah satu pencapaian paling mencolok bagi budaya Vietnam di tahun dua ribu dua puluh lima adalah pengakuan dari UNESCO terhadap beberapa situs dan warisan yang dimiliki negara ini. Pada pertengahan tahun, kompleks warisan bersejarah dan pemandangan alam di Yen Tu Vinh Nghiem Con Son dan Kiep Bac resmi ditetapkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO.
Pengakuan ini bukan sekadar penghormatan formal, tetapi juga pengakuan atas nilai budaya, spiritual, dan estetika yang dimiliki kompleks situs tersebut yang mencerminkan kedalaman sejarah dan filsafat spiritual rakyat Vietnam. Penghargaan ini menjadi kebanggaan nasional karena menempatkan warisan budaya Vietnam pada peta peradaban dunia dan menunjukkan kapasitas negara ini dalam mempertahankan dan menonjolkan nilai budaya di panggung internasional
Pengakuan UNESCO ini juga menjadi momentum refleksi tentang bagaimana sejarah panjang bangsa Vietnam, perjuangan spiritualnya, dan nilai‑nilai tradisionalnya berkontribusi terhadap warisan dunia. Khususnya, kompleks Yen Tu Vinh Nghiem Con Son dan Kiep Bac mencakup situs yang berkaitan dengan tradisi Buddhis Truc Lam Vietnam, yang tidak hanya menjadi bagian penting dari sejarah spiritual negara itu tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai‑nilai luhur seperti harmoni, keseimbangan, dan ketenangan hidup dapat terpancar melalui warisan budaya yang masih relevan hingga hari ini.
Selain pengakuan internasional, dua ribu dua puluh lima juga menjadi tahun dimana Vietnam memperkuat kesadaran nasional terhadap pentingnya pelestarian budaya tradisional. Pemerintah dan komunitas lokal bersama‑sama menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mencerminkan persatuan dan keberagaman budaya negara. Pekan “Persatuan Bangsa Besar Warisan Budaya Vietnam” menampilkan berbagai pertunjukan, festival, dan lokakarya yang melibatkan suku bangsa dari berbagai wilayah. Kegiatan ini bukan hanya memamerkan tarian, musik, dan upacara adat, tetapi juga memperkuat kesadaran pentingnya saling menghormati dan menjaga tradisi yang diwariskan oleh leluhur Vietnam dari generasi ke generasi.
Festival dan acara budaya semacam ini berperan besar dalam memberikan pengalaman langsung bagi generasi muda dan masyarakat umum atas kekayaan budaya yang dimiliki Vietnam. Tradisi suku bangsa yang berbeda‑beda memperlihatkan bagaimana warisan budaya bukan hanya berada di museum atau catatan sejarah, tetapi hidup dalam komunitas, dalam upacara, dalam musik dan tarian, serta dalam kegiatan sehari‑hari masyarakat. Ini membantu memperkuat rasa identitas nasional dan tanggung jawab untuk menjaga warisan tersebut tetap hidup dan relevan bagi anak‑cucu kelak.
Dalam konteks warisan tak benda, Vietnam juga mencatat perkembangan penting pada tahun ini. Beberapa festival dan tradisi lokal, seperti festival layang‑layang di Ba Duong Noi di Hanoi serta penetapan Dao Thuc water puppetry sebagai bagian dari warisan budaya tak benda nasional, menunjukkan beragamnya warisan budaya yang terus dilindungi dan dipromosikan. Tradisi seperti pertunjukan boneka air ini memiliki nilai historis dan artistik yang tinggi, menjadi jembatan antara generasi sebelumnya dan generasi saat ini yang semakin mengapresiasi nilai‑nilai estetis dan budaya di baliknya.
Selain itu, Vietnam menyelenggarakan berbagai festival budaya internasional yang mempertemukan masyarakat Vietnam dengan budaya dari negara lain. Festival Budaya Dunia di Hanoi menjadi salah satu contoh bagaimana Vietnam membuka diri terhadap dialog budaya global. Acara ini tidak hanya menjadi tempat pertukaran seni dan tradisi, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya sebagai alat untuk memperkenalkan nilai‑nilai Vietnam kepada dunia luas. Kegiatan semacam ini memperlihatkan Vietnam sebagai negara yang tidak hanya melestarikan warisan budayanya sendiri, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam komunitas budaya global.
Upaya pelestarian budaya juga terlihat melalui pameran yang digelar di berbagai kota besar seperti Hanoi. Pameran yang menampilkan warisan budaya Vietnam dari tradisi hingga kehidupan modern ini membantu generasi muda dan wisatawan memahami hubungan antara masa lalu dan masa kini. Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat melihat bagaimana tradisi tetap hadir dalam kehidupan kontemporer, dari arsitektur kuno hingga tarian dan festival yang masih dirayakan sampai sekarang
Secara keseluruhan, kesan tentang warisan budaya Vietnam di tahun dua ribu dua puluh lima adalah bahwa negara ini telah berada pada titik kritis dalam menguatkan posisi budaya tradisional di era modern. Capaian pengakuan internasional, dukungan masyarakat dalam kegiatan budaya, serta upaya pemerintah untuk menjadikan warisan budaya sebagai sumber inspirasi sosial dan ekonomi menunjukkan betapa pentingnya warisan ini bagi identitas dan masa depan Vietnam. Budaya bukan hanya dimaknai sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai landasan dalam membangun masa depan yang berakar pada nilai‑nilai luhur dan kebanggaan nasional.
