Mediabaca.com — Pascabencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025, pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk memulihkan berbagai sektor yang terdampak. Di antara berbagai sektor yang menjadi fokus, sektor pendidikan ditetapkan sebagai salah satu prioritas utama. Komitmen ini bukan semata slogan, melainkan ditindaklanjuti dengan langkah-langkah strategis yang konkret demi memastikan agar proses belajar-mengajar dapat berjalan kembali dalam waktu secepat mungkin dan dalam kondisi yang aman serta layak bagi peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan lainnya.
Dampak Bencana Terhadap Sektor Pendidikan
Bencana banjir dan longsor di sejumlah kabupaten, terutama di Aceh Tamiang, menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas pendidikan. Banyak sekolah mengalami kerusakan fisik, mulai dari ruang kelas yang terendam lumpur, rusaknya mobili sekolah (meja, kursi), hingga hancurnya fasilitas penunjang lainnya. Dampak ini membuat kegiatan belajar-mengajar sempat terhenti dan menimbulkan tantangan besar dalam pemulihan akses pendidikan. Selain kerusakan fisik, gangguan terhadap psikologis siswa dan guru juga menjadi perhatian serius. Kondisi traumatik akibat bencana dapat memengaruhi kesiapan mental peserta didik untuk kembali ke sekolah dan ikut serta aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, pendekatan pemulihan tidak hanya sebatas perbaikan fasilitas, tetapi juga mencakup dukungan psikososial.
Komitmen Pemerintah Aceh
Pemerintah Provinsi Aceh menegaskan komitmen kuatnya untuk menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam fase pemulihan pascabencana. Hal ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, saat meninjau rehabilitasi sarana pendidikan di sejumlah sekolah terdampak di Kabupaten Aceh Tamiang pada pertengahan Januari 2026. Dalam kunjungan tersebut, Pemerintah Aceh fokus pada rehabilitasi sarana belajar, termasuk mobilier sekolah yang rusak akibat bencana. Sekitar 1.000 unit kursi dan meja siswa telah direhabilitasi dan siap digunakan kembali, memperlihatkan komitmen pemulihan yang cepat dan efektif. Langkah ini tidak hanya memperbaiki fasilitas fisik, tetapi juga memberikan harapan bagi para siswa untuk kembali ke ruang kelas dengan kondisi yang nyaman dan layak.
Sinergi dengan Pemerintah Pusat
Pemulihan pendidikan di Aceh juga menerima dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kebijakan yang diberlakukan antara lain berupa kemudahan penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara lebih fleksibel bagi sekolah terdampak bencana, agar dana dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mendesak di masa pemulihan. Selain itu, pemerintah pusat juga secara aktif memantau dan mendukung proses pemulihan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, melaporkan bahwa sekitar 90 persen dari total 2.756 sekolah terdampak di Aceh sudah siap menjalankan pembelajaran. Presentase ini mencerminkan progres signifikan dalam pemulihan fasilitas dan layanan pendidikan. Meskipun masih terdapat sekitar 283 sekolah yang sedang dalam tahap pemulihan akhir dan ditargetkan selesai pada akhir Januari 2026, kehadiran 90 persen guru dan sekitar 70 persen siswa pada hari pertama semester genap menunjukkan semangat yang luar biasa dari komunitas pendidikan di tengah kondisi pascabencana.
Langkah-Langkah Konkret Pemulihan
Upaya pemulihan pendidikan di Aceh dilakukan melalui beberapa langkah strategis:
1. Pemulihan Fasilitas Pendidikan
Rehabilitasi ruang kelas, perbaikan fasilitas penunjang pembelajaran, serta pembersihan sekolah dari sisa material banjir dan longsor menjadi prioritas. Pemerintah daerah bahkan mengerahkan ribuan relawan ASN dan tenaga kerja untuk mempercepat proses pembersihan sekolah yang terdampak.
2. Penyediaan Sarana Pendidikan Darurat
Untuk sekolah-sekolah yang belum sepenuhnya pulih, penyediaan tent-class (tenda kelas darurat) serta ruang kelas darurat lainnya dilakukan agar kegiatan belajar tetap dapat berjalan tanpa menunggu perbaikan total.
3. Paket Sekolah dan Dukungan Logistik
Distribusi paket perlengkapan sekolah atau school kit, buku pelajaran, dan dukungan logistik lainnya seperti alat tulis serta bahan ajar terus berjalan. Dukungan ini penting untuk memastikan siswa memiliki kebutuhan dasar pembelajaran yang memadai.
4. Dukungan Psikososial
Pemerintah juga memberikan perhatian pada pemulihan psikologis dengan penyediaan layanan trauma healing dan pendekatan interaksi sosial yang mendukung kesehatan mental siswa serta tenaga pengajar pascabencana.
5. Insentif untuk Guru dan Tenaga Kependidikan
Selain pemulihan fasilitas fisik, guru dan tenaga kependidikan yang terdampak bencana juga mendapatkan insentif tambahan dalam bentuk tunjangan khusus agar motivasi mengajar tetap tinggi dan mereka dapat fokus mendukung siswa kembali belajar.
Tantangan yang Dihadapi
Meskipun banyak kemajuan telah dicapai, upaya pemulihan pendidikan Aceh tidak luput dari tantangan. Beberapa tantangan utama antara lain: Kerusakan infrastruktur yang luas dan beragam di berbagai daerah, sehingga memerlukan waktu dan sumber daya yang besar untuk pemulihan total. Kesiapan operasi sekolah secara penuh: Meski sebagian besar sekolah siap beroperasi, masih ada sekolah yang perlu perbaikan lanjutan, termasuk fasilitas sanitasi dan pendukung pembelajaran. Dampak psikologis terhadap siswa dan guru, yang membutuhkan intervensi berkelanjutan agar pembelajaran tidak terganggu oleh trauma pascabencana. Pemenuhan logistik dan koordinasi antarinstansi, diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah daerah, pusat, organisasi non-pemerintah, dan komunitas lokal untuk menjamin bahwa bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Harapan ke Depan
Upaya pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan sektor pendidikan terhadap bencana. Pemerintah Aceh bersama pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan berkomitmen membangun sistem pendidikan yang lebih tangguh, baik dari segi infrastruktur maupun dukungan psikososial bagi siswa dan tenaga pendidik. Selain pemulihan fisik, proses ini juga menjadi kesempatan bagi Aceh untuk mengevaluasi dan meningkatkan kapasitas pendidikan dalam menghadapi bencana di masa depan, termasuk perencanaan tata ruang sekolah yang lebih aman, penyediaan ruang kelas tahan bencana, serta pengembangan curriculum continuity dalam keadaan darurat. Dengan kesungguhan dan dukungan lintas sektor, diharapkan sektor pendidikan di Aceh tidak hanya pulih dari dampak bencana, tetapi juga menjadi lebih kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan serta terus menjadi fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di provinsi ini.
