Mediabaca.com — Pemerintah menyiapkan program revitalisasi sekolah pada 2026 yang menyasar 71.446 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas fasilitas, lingkungan belajar, dan layanan pendidikan bagi siswa di tingkat dasar hingga menengah. Program revitalisasi mencakup perbaikan gedung sekolah, renovasi ruang kelas, penyediaan sarana olahraga, laboratorium, hingga perpustakaan. Tidak hanya fisik, program ini juga menekankan penguatan kurikulum berbasis kompetensi dan peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan intensif.
Menurut Kementerian Pendidikan, kebijakan ini diharapkan memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah di kota besar dan daerah terpencil. Salah satu fokus utama revitalisasi adalah sekolah yang berada di wilayah prioritas, termasuk daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan. Dengan perbaikan fasilitas, pemerintah berharap tingkat partisipasi belajar meningkat dan siswa memiliki motivasi belajar lebih tinggi. Data BPS 2025 menunjukkan masih terdapat 12,7% sekolah di Indonesia yang memiliki kondisi fisik kurang memadai.
Selain itu, program ini memanfaatkan teknologi digital. Penerapan laboratorium virtual, ruang kelas berbasis digital, dan perpustakaan elektronik menjadi bagian dari strategi untuk memperkaya pengalaman belajar. Kementerian Pendidikan menargetkan setiap sekolah yang direvitalisasi memiliki akses internet yang memadai dan perangkat pembelajaran modern.
Pendanaan program ini bersumber dari anggaran negara dan kerja sama dengan pihak swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR). Menteri Pendidikan menyatakan, Revitalisasi bukan sekadar membangun fisik, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang mendukung siswa dan guru berkembang secara maksimal. Tenaga pendidik juga menjadi perhatian serius. Program pelatihan guru berfokus pada peningkatan kompetensi pedagogik, literasi digital, dan manajemen kelas. Hal ini penting karena kualitas guru tetap menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan, seiring dengan modernisasi sarana dan kurikulum.
Meski ambisius, program revitalisasi menghadapi tantangan logistik dan sumber daya manusia. Distribusi bahan bangunan ke wilayah terpencil dan keterbatasan tenaga ahli menjadi kendala yang harus diatasi pemerintah. Untuk itu, strategi pelaksanaan dilakukan secara bertahap, dengan prioritas pada sekolah yang paling membutuhkan intervensi cepat. Evaluasi keberhasilan revitalisasi akan dilakukan melalui indikator peningkatan kualitas fisik sekolah, fasilitas pembelajaran, kemampuan guru, dan capaian belajar siswa. Dengan pengawasan ketat dan data real-time, pemerintah berharap program ini berdampak signifikan pada mutu pendidikan nasional.
Program revitalisasi sekolah 2026 diharapkan menjadi tonggak penting dalam menciptakan pendidikan yang merata dan berkualitas. Dengan pendekatan holistik, mulai dari fisik hingga penguatan kompetensi guru, pemerintah menegaskan komitmennya mencetak generasi unggul yang siap menghadapi tantangan global.
