Mediabaca.com — Indonesia dikenal dengan keragaman budayanya yang kaya, mulai dari seni, musik, tarian, hingga kuliner. Salah satu warisan budaya kuliner yang paling populer dan memiliki nilai sejarah serta sosial yang besar adalah tempe. Makanan fermentasi berbahan dasar kedelai ini kini tengah dipersiapkan untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO pada tahun 2026. Pengajuan ini mengikuti langkah serupa yang diambil oleh budaya kolintang dan Reog Ponorogo, yang sebelumnya telah diakui oleh dunia internasional. Dengan langkah ini, tempe diharapkan dapat mendapatkan pengakuan global atas nilai budaya dan sosialnya yang luar biasa.
1. Sejarah Tempe di Indonesia
Tempe, yang diyakini berasal dari Jawa, telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia selama ratusan tahun. Berasal dari kedelai yang difermentasi dengan jamur Rhizopus oligosporus, tempe merupakan makanan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga mudah didapatkan dan terjangkau. Proses pembuatannya yang sederhana menjadikannya salah satu produk pangan tradisional yang paling dikenal di Indonesia. Selain itu, tempe juga telah menjadi simbol keberagaman budaya Indonesia, karena variasinya yang meluas ke seluruh penjuru negeri, bahkan ke luar negeri.
Sejarah tempe di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17, namun tidak ada catatan pasti mengenai waktu dan tempat pertama kali tempe ditemukan. Walaupun demikian, tempe telah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia, mulai dari yang kaya hingga yang miskin. Makanan ini juga digunakan dalam berbagai upacara adat, perayaan, dan kegiatan sosial, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
2. Proses Pengajuan ke UNESCO
Pengajuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dimulai pada akhir Maret 2024, dan telah melalui serangkaian riset serta proses panjang yang melibatkan berbagai pihak. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan berbagai lembaga, akademisi, serta komunitas tempe untuk menyusun dokumen nominasi yang diajukan ke UNESCO. Pengajuan ini melibatkan kajian mendalam mengenai sejarah tempe, proses pembuatan, serta kontribusi sosial dan ekonomi tempe bagi masyarakat Indonesia.
Salah satu aspek yang ditekankan dalam pengusulan tempe adalah praktik budaya, yaitu bagaimana masyarakat Indonesia memproduksi, mengonsumsi, dan mengembangkan tempe dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, seperti cara-cara fermentasi yang unik, juga menjadi bagian yang penting dalam pengajuan ini. Dalam dokumen nominasi yang dipublikasikan pemerintah, disebutkan bahwa budaya tempe tidak hanya terbatas pada aspek kuliner, tetapi juga melibatkan nilai-nilai sosial yang kuat, seperti kebersamaan, gotong royong, dan keberlanjutan.
3. Peran Tempe dalam Kehidupan Sosial Masyarakat
Tempe memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu bahan pangan utama, tempe menyediakan sumber protein yang terjangkau dan mudah diakses oleh hampir semua lapisan masyarakat. Bahkan, tempe menjadi salah satu makanan pokok bagi jutaan orang yang hidup di daerah pedesaan maupun perkotaan.
Dalam konteks sosial, tempe juga mencerminkan prinsip-prinsip gotong royong dan kerja sama antarwarga. Banyak produsen tempe di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang memiliki tradisi pembuatan tempe, yang bekerja sama dalam kelompok atau komunitas untuk memproduksi tempe dalam jumlah besar. Ini menunjukkan bahwa pembuatan tempe bukan hanya sekadar usaha ekonomi, tetapi juga melibatkan kebersamaan dan nilai-nilai sosial yang telah ada sejak lama.
Selain itu, tempe juga menjadi simbol keberlanjutan. Dalam proses pembuatannya yang sederhana, tempe memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ramah lingkungan, seperti kedelai dan air, serta memanfaatkan jamur untuk fermentasi. Oleh karena itu, tempe tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga bagi keberlanjutan alam dan lingkungan.
4. Respons Positif dari Komunitas Internasional
Pengajuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO mendapatkan respons yang sangat positif dari berbagai komunitas internasional. Sejak dimulai pada Maret 2024, riset dan diskusi mengenai tempe telah melibatkan berbagai pihak, mulai dari pakar kuliner internasional hingga lembaga-lembaga yang peduli terhadap pelestarian budaya dan keberlanjutan. Banyak pihak yang mengapresiasi tempe tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kebudayaan Indonesia yang kaya akan tradisi dan pengetahuan lokal.
Bahkan, tempe sudah dikenal di luar Indonesia sebagai makanan yang bergizi dan ramah lingkungan. Banyak restoran, terutama di negara-negara Barat, yang mulai menyajikan tempe sebagai alternatif makanan berbasis tanaman untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin peduli terhadap isu kesehatan dan lingkungan. Ini menunjukkan bahwa tempe tidak hanya memiliki relevansi di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional.
5. Harapan di Masa Depan
Dengan adanya pengajuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, diharapkan akan semakin banyak orang di seluruh dunia yang mengenal dan menghargai tempe sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Pengakuan ini juga dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk mempromosikan tempe ke pasar internasional, meningkatkan perekonomian lokal, serta mendorong generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan warisan budaya mereka.
Selain itu, pengakuan UNESCO terhadap tempe dapat menjadi langkah awal untuk melestarikan lebih banyak budaya tradisional Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui proses ini, masyarakat Indonesia diingatkan akan pentingnya menjaga dan merawat tradisi dan kebudayaan mereka agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Pengajuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO merupakan langkah penting dalam melestarikan dan mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia di kancah internasional. Melalui pengakuan ini, tempe diharapkan bisa menjadi simbol kebanggaan nasional sekaligus menunjukkan bahwa budaya Indonesia tidak hanya terbatas pada kesenian dan tradisi, tetapi juga melibatkan kekayaan kuliner yang memiliki nilai sosial dan keberlanjutan yang tinggi. Dengan dukungan masyarakat internasional, tempe bisa terus berkembang dan dihargai sebagai warisan budaya dunia yang tak ternilai.
