Mediabaca.com — Pendidikan lingkungan kembali ramai dibicarakan setelah Presiden Prabowo menyampaikan gagasan untuk memasukkan materi tersebut ke dalam silabus saat peringatan Puncak Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena pada akhir November lalu. Saya menonton pidato itu melalui kanal YouTube Kemdikdasmen dan ada satu bagian yang membuat saya terdiam cukup lama. Bukan karena retorikanya, bukan pula karena panggung megah yang digunakan, melainkan karena kesadaran tiba-tiba bahwa wacana ini sesungguhnya bukan hal baru namun momentum untuk benar-benar menggerakkannya belum pernah sebesar ini.
Saat Presiden Prabowo menekankan perlunya pendidikan lingkungan diterapkan sejak dini, saya merasa seperti ditarik kembali pada realita yang sering kita abaikan. Kita hidup dalam era perubahan iklim yang semakin nyata: suhu ekstrem, banjir yang datang lebih sering, kekeringan berkepanjangan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga polusi yang merusak kualitas hidup masyarakat. Fenomena ini bukan sekadar berita di televisi atau laporan ilmiah kita mengalaminya setiap hari. Karena itulah, ketika isu pendidikan lingkungan kembali dibawa ke panggung nasional, saya berpikir: mungkin inilah saatnya perubahan besar benar-benar dimulai.
Bagian pidato yang membuat saya terdiam adalah ketika Presiden menyebut bahwa generasi muda tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pemahaman tentang alam yang menopang kehidupan mereka. Kata-katanya sederhana, tetapi maknanya mendalam. Selama ini pendidikan kita cenderung menekankan kemampuan akademik, tetapi kurang memberi ruang bagi pembentukan karakter ekologis. Padahal, membangun hubungan harmonis dengan alam adalah fondasi keberlanjutan jangka panjang. Tanpa kesadaran itu, pencapaian teknologi dan ekonomi tidak akan bertahan.
Saya membayangkan bagaimana jika pendidikan lingkungan benar-benar menjadi mata pelajaran wajib. Tidak hanya teori tentang daur ulang atau pengertian pemanasan global, tetapi pembelajaran yang hidup yang bisa dirasakan oleh anak-anak. Misalnya, kegiatan menanam pohon secara rutin, mengelola kebun sekolah, memilah sampah sebagai budaya, mempelajari ekosistem lokal, atau melakukan studi lapangan ke kawasan konservasi. Bila diterapkan dengan konsisten, generasi muda akan tumbuh dengan rasa tanggung jawab lebih besar terhadap bumi.
Namun, pendidikan lingkungan bukan sekadar menambahkan materi baru dalam silabus. Ini adalah perubahan paradigma. Guru perlu diberi pelatihan yang memadai agar mampu mengintegrasikan konsep keberlanjutan ke dalam berbagai mata pelajaran. Sekolah perlu memperkuat fasilitas ramah lingkungan: bank sampah, area penghijauan, penggunaan energi efisien, dan manajemen limbah yang benar. Kurikulum juga harus memberikan ruang bagi kolaborasi, proyek berbasis masalah, dan pembelajaran kontekstual. Ini menuntut kerja sama antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat luas.
Ketika saya memikirkan bagian pidato itu, saya juga menyadari sesuatu yang lebih pribadi: betapa jauhnya sebagian dari kita dari alam yang seharusnya kita jaga. Banyak anak di kota besar tidak pernah benar-benar melihat sawah, sungai yang jernih, atau hutan yang tumbuh alami. Bagaimana kita berharap mereka mencintai alam jika mereka hampir tidak pernah bersentuhan dengannya? Karena itu, pendidikan lingkungan harus membuka akses. Anak-anak perlu mengalami langsung bahwa bumi adalah makhluk hidup yang harus dihormati.
Gagasan Presiden mungkin baru berupa wacana, tetapi memiliki potensi besar untuk menjadi gerakan nasional. Kita tidak bisa lagi menunggu. Dunia berubah terlalu cepat. Lingkungan adalah isu lintas generasi, dan pendidikan adalah jembatan terkuat untuk memastikan masa depan yang lebih baik. Pidato yang saya tonton itu pada akhirnya bukan hanya pernyataan politik, melainkan ajakan moral. Ia mengingatkan bahwa bumi bukan warisan leluhur semata, tetapi titipan untuk anak cucu. Dan pendidikan lingkungan adalah cara paling nyata untuk memastikan mereka kelak tumbuh sebagai penjaga yang lebih bijak daripada kita hari ini. Semoga wacana ini benar-benar diwujudkan, bukan sekadar menjadi topik hangat sesaat.
