Mediabaca.com — Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan semakin erat. Salah satu bentuk diplomasi budaya yang menonjol adalah melalui industri film, khususnya dengan fenomena remake film. Remake film tidak hanya menjadi ajang pertukaran hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan nilai-nilai budaya dan memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara.
Remake film dapat didefinisikan sebagai pembuatan ulang sebuah film yang sebelumnya sudah ada, baik dari segi cerita, karakter, maupun konsep utama. Di era globalisasi ini, industri perfilman menjadi salah satu media efektif untuk memperkenalkan budaya, bahasa, dan gaya hidup suatu negara ke negara lain. Korea Selatan, misalnya, dikenal dengan K-wave atau Hallyu, yakni gelombang budaya populer Korea yang telah mendunia. Melalui drama, musik, dan film, budaya Korea menjadi sangat populer di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Indonesia pun mulai memanfaatkan tren ini dengan melakukan remake terhadap film-film Korea yang sukses. Salah satu contoh terbaru adalah film Korea yang diadaptasi menjadi versi Indonesia. Proses adaptasi ini tidak hanya menyalin cerita, tetapi juga menyesuaikan budaya, adat, dan karakter lokal sehingga penonton Indonesia dapat lebih mudah memahami dan merasakan kedekatan dengan kisah tersebut. Dengan cara ini, film tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media edukasi budaya yang efektif.
Selain itu, remake film juga menjadi alat diplomasi yang halus namun kuat. Film memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan dan nilai budaya tanpa terasa seperti propaganda formal. Misalnya, tema persahabatan, cinta, atau perjuangan yang diangkat dalam film dapat mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya kedua negara. Dengan menonton film yang di-remake, penonton Indonesia dapat memahami aspek budaya Korea Selatan, mulai dari etika, kebiasaan sehari-hari, hingga simbol-simbol budaya yang khas. Sebaliknya, kolaborasi dalam produksi film juga membuka peluang bagi para sineas Korea untuk memahami budaya Indonesia lebih dalam.
Kerja sama ini juga membawa keuntungan ekonomi dan industri kreatif bagi kedua negara. Dengan meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap film Korea, remake film menjadi peluang bagi produser lokal untuk menarik penonton lebih luas. Sebaliknya, kolaborasi ini membuka pasar baru bagi sineas Korea untuk menembus industri perfilman Indonesia. Di sisi lain, pertukaran kreatif ini meningkatkan kualitas produksi film dan memperluas jaringan profesional antara kedua negara.
Dukungan pemerintah juga berperan penting dalam diplomasi budaya melalui remake film. Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia aktif memfasilitasi kerja sama ini melalui festival film, workshop, dan pelatihan bersama. Program-program ini bertujuan memperkuat industri film, sekaligus meningkatkan pemahaman budaya kedua negara. Diplomasi budaya melalui film menjadi strategi soft power yang lebih lembut namun efektif, karena membangun hubungan emosional dan kesadaran budaya secara alami.
Fenomena remake film juga menunjukkan bagaimana budaya populer dapat menjadi jembatan bagi masyarakat kedua negara. Penonton muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z, menjadi sasaran utama karena mereka lebih mudah terhubung dengan hiburan visual. Film yang diadaptasi dari Korea ke Indonesia membuat generasi muda Indonesia lebih terbuka terhadap budaya asing, sekaligus menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap karya lokal yang berhasil menyesuaikan cerita dengan identitas budaya sendiri.
Secara keseluruhan, remake film menjadi alat diplomasi budaya yang strategis dan multifungsi. Selain sebagai hiburan, film yang diadaptasi mempererat hubungan bilateral, memfasilitasi pertukaran budaya, meningkatkan kualitas industri kreatif, dan memperkenalkan nilai-nilai sosial kedua negara. Indonesia dan Korea Selatan membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu harus dilakukan melalui jalur politik formal; budaya populer, seperti film, dapat menjadi jembatan yang kuat dan efektif untuk membangun pemahaman, persahabatan, dan kerja sama jangka panjang. Dengan demikian, remake film bukan sekadar hiburan belaka, tetapi sebuah strategi diplomasi budaya yang mampu menyatukan masyarakat dari dua negara melalui pengalaman visual dan emosional yang universal.
