Mediabaca.com — Pendidikan sering disebut sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Namun, jika kita menengok kondisi sistem pendidikan kita hari ini, pertanyaan besar muncul: apakah fondasi itu masih kokoh, atau justru sudah rapuh dan usang? Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita tidak lagi sekadar membutuhkan perbaikan kecil atau tambal sulam kebijakan. Yang dibutuhkan adalah perombakan total menyeluruh, berani, dan berorientasi pada masa depan.
Masalah paling mendasar dari sistem pendidikan kita adalah orientasinya yang terlalu kuat pada angka dan hafalan. Nilai ujian, peringkat, dan kelulusan menjadi tujuan utama, sementara proses berpikir kritis, kreativitas, dan pembentukan karakter sering kali terpinggirkan. Peserta didik didorong untuk “benar menurut kunci jawaban”, bukan untuk bertanya, meragukan, atau mengeksplorasi gagasan baru. Akibatnya, sekolah melahirkan lulusan yang patuh dan seragam, tetapi kurang adaptif dalam menghadapi persoalan nyata di masyarakat.
Kurikulum yang terus berganti juga menjadi persoalan serius. Alih-alih memperbaiki kualitas pembelajaran, pergantian kurikulum sering kali membingungkan guru dan siswa. Banyak kebijakan pendidikan lahir tanpa persiapan matang dan tanpa pelibatan guru sebagai pelaksana utama di lapangan. Guru dipaksa beradaptasi dengan administrasi baru, istilah baru, dan target baru, sementara esensi pembelajaran justru terabaikan. Pendidikan akhirnya sibuk mengurus dokumen, bukan membangun pemahaman.
Ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah juga menjadi bukti bahwa sistem yang ada belum adil. Sekolah di perkotaan dengan fasilitas lengkap, akses teknologi, dan guru berkualitas jelas memiliki keunggulan dibanding sekolah di daerah terpencil. Anak-anak dengan potensi yang sama tidak mendapatkan kesempatan yang sama hanya karena mereka lahir di tempat yang berbeda. Sistem pendidikan yang baik seharusnya menjadi alat pemerataan, bukan justru memperlebar jurang ketidakadilan sosial.
Peran guru dalam sistem pendidikan kita juga sering kali tidak ditempatkan secara semestinya. Guru dituntut menjadi pendidik profesional, tetapi kesejahteraan, pelatihan, dan kepercayaan terhadap mereka masih terbatas. Beban administratif yang berlebihan membuat guru kelelahan dan kehilangan ruang untuk berinovasi dalam mengajar. Padahal, tidak akan ada pendidikan berkualitas tanpa guru yang dihargai, didukung, dan diberi kebebasan berpikir.
Selain itu, sistem pendidikan kita kurang relevan dengan kebutuhan zaman. Dunia kerja dan kehidupan sosial berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi dan globalisasi. Namun, sekolah masih mengajarkan banyak hal yang terputus dari realitas tersebut. Literasi digital, kemampuan berpikir lintas disiplin, kecerdasan emosional, dan kolaborasi sering hanya menjadi slogan, bukan praktik nyata di ruang kelas. Akibatnya, lulusan sekolah dan perguruan tinggi banyak yang gagap menghadapi dunia nyata.
Perombakan total sistem pendidikan berarti berani mengubah paradigma dasar. Pendidikan tidak boleh lagi berpusat pada guru dan kurikulum semata, melainkan pada peserta didik sebagai manusia utuh. Sekolah harus menjadi ruang aman untuk belajar, gagal, mencoba kembali, dan menemukan jati diri. Proses belajar harus lebih kontekstual, mengaitkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari dan persoalan masyarakat sekitar.
Evaluasi pembelajaran juga perlu dirombak. Ujian standar yang seragam tidak bisa menjadi satu-satunya alat ukur kecerdasan dan keberhasilan. Setiap anak memiliki keunikan, minat, dan bakat yang berbeda. Sistem penilaian harus lebih fleksibel dan holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi “menghakimi”, tetapi membimbing.
Teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar pelengkap. Pembelajaran daring, sumber belajar terbuka, dan platform digital bisa memperluas akses pendidikan jika digunakan secara bijak. Namun, teknologi tidak akan berarti apa-apa tanpa perubahan cara berpikir. Perombakan sistem pendidikan harus memastikan bahwa teknologi mendukung pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar memindahkan metode lama ke layar digital.
Akhirnya, perombakan total sistem pendidikan membutuhkan keberanian politik dan komitmen jangka panjang. Pendidikan bukan proyek lima tahunan atau ajang pencitraan. Dampaknya baru terasa dalam satu atau dua generasi. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus konsisten, berbasis riset, dan melibatkan semua pemangku kepentingan: guru, siswa, orang tua, dan masyarakat.
