Tingginya Screen Time Anak Picu Masalah Kesehatan Mental

Tingginya Screen Time Anak Picu Masalah Kesehatan Mental

Mediabaca.comMenteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyoroti tingginya waktu menatap layar atau screen time anak dan remaja Indonesia yang mencapai lebih dari 7,5 jam per hari. Ia menekankan bahwa angka ini jauh melampaui batas aman, bahkan anak-anak di bawah dua tahun pun mengalami paparan layar yang signifikan. Menurut Pratikno, tingginya screen time telah menjadi faktor pemicu meningkatnya masalah kesehatan mental di Indonesia. Data ini menjadi alarm bagi pemerintah, orang tua, dan masyarakat luas untuk lebih memperhatikan perilaku digital anak dan remaja sejak usia dini. Ia menyebutkan pentingnya intervensi cepat agar masalah mental tidak berkembang menjadi kondisi serius di masa depan.

Provinsi dengan Prevalensi Masalah Kesehatan Jiwa Tertinggi

Pratikno memaparkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki prevalensi masalah kesehatan jiwa tertinggi, yakni 4,4 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 2 persen. Temuan ini mengindikasikan bahwa risiko gangguan mental tidak hanya di alami oleh kelompok tertentu.

Ttetapi menyebar luas di berbagai wilayah. Ia juga menyoroti temuan dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menunjukkan semakin banyak warga, termasuk anak dan remaja, menunjukkan indikasi gangguan mental. Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk merancang program pencegahan dan intervensi yang lebih efektif di tingkat lokal maupun nasional.

Perubahan Perilaku Anak Akibat Disrupsi Teknologi

Pratikno menekankan bahwa disrupsi teknologi membawa perubahan perilaku anak-anak dan remaja Indonesia. Anak-anak kini banyak menghabiskan waktu di dunia maya, berinteraksi melalui gawai dan platform digital, sehingga aktivitas sosial secara langsung semakin berkurang. Tingginya paparan layar yang melampaui batas aman menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan mental generasi muda.

Ia menyebutkan bahwa ketergantungan terhadap gawai tidak hanya berdampak pada perilaku sosial, tetapi juga mengganggu konsentrasi belajar, pola tidur, dan kemampuan emosional anak. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah, orang tua, dan tenaga profesional.

Intervensi Komprehensif untuk Kurangi Ketergantungan Gawai

Dalam acara Dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance, Pratikno menegaskan bahwa kesehatan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia unggul. Oleh karena itu, intervensi komprehensif diperlukan untuk mengurangi ketergantungan anak pada gadget, termasuk penyediaan fasilitas yang mendorong interaksi sosial secara langsung.

“Penanganan upaya komprehensif harus di lakukan supaya ada fasilitas untuk mendukung screen time. Sehingga anak-anak kita bersosial, mengurangi permasalahan-permasalahan kesehatan mental,” ujarnya.

Langkah ini di harapkan bisa menciptakan ekosistem yang lebih sehat bagi perkembangan mental dan emosional anak.

Dukungan Presiden dan Prioritas Nasional

Pratikno juga menekankan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap sektor kesehatan, terutama melalui program pemeriksaan kesehatan gratis, pembangunan rumah sakit, dan beasiswa untuk dokter spesialis.

Menurutnya, ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menangani isu kesehatan mental secara serius dan menyeluruh. Ia menekankan bahwa kesehatan mental merupakan isu nasional yang membutuhkan kerja sama lintas sektor. Seluruh pemangku kepentingan diminta berfokus pada perbaikan ekosistem sosial anak sebagai langkah pencegahan dini.

Data Nasional dan Tingginya Angka Gangguan Jiwa

Yunita Arihandayani, Ketua Tim Kerja Deteksi Dini dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Di rektorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, menyebutkan bahwa rata-rata nasional gangguan depresi adalah 1,4 persen, sedangkan DKI Jakarta sedikit lebih tinggi, yakni 1,5 persen.

Provinsi Jawa Barat tercatat paling tinggi dengan prevalensi 4,4 persen, menunjukkan perlunya intervensi lebih intensif di wilayah tersebut. Temuan ini menjadi peringatan penting bahwa screen time berlebihan berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan mental, sehingga strategi pencegahan harus melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas secara terpadu.

Author: admin